Usai Viral, Menolak Final Ulang LCC MPR-RI,Sosok Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak Ternyata Pernah Bikin Tesis'Perilaku Sosial Anak.
Di tengah polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026, Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati, S.Sos., M.Si mendapat perhatian karena sikapnya yang tenang dan bermartabat. Ia melalui pernyataan resmi sekolah menegaskan tidak menghendaki lomba ulang tanpa menyerang pihak lain. Sikap tersebut dinilai menunjukkan kepemimpinan yang menjaga etika, persatuan, dan marwah pendidikan di tengah situasi yang memanas.
Serigalatimur.com.||Di tengah Panasnya Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026, ada satu sosok yang perlahan mendapat perhatian dan rasa hormat dari banyak orang, bukan karena tampilan paling vokal, bukan karena sibuk membangun panggung opini, tetapi karena berhasil menunjukkan Bagaimana seharusnya seorang pimpinan pendidikan bersikap di tengah badai.
Bukan lain adalah sosok kepala sekolah SMAN 1 Pontianak Indang Maryati, S.Sos.,M.Si, bisa suasana pabrik penuh emosi, beliau justru memilih jalur yang tenang,elegan, dan bermartabat.
Lewat pernyataan sikap resmi sekolah, SMAN 1 Pontianak dia menegaskan tidak menghendaki lomba ulang, namun yang membuat banyak orang kagum bukan hanya isi keputusannya, melalaikan cara keputusan itu disampaikan, tidak ada nada menyerang, tidak ada provokasi, tidak ada upaya menjatuhkan pihak lain.
Padahal kalau mau, situasi saat itu sangat memungkinkan untuk memperbesar tekanan publik.
Tetapi yang dipilih justru sebaliknya menjaga Marwah pendidikan, menjaga persatuan, dan tetap menghormati semua pihak meski berada dalam situasi yang tidak mudah,(Kamis 14 Mei 2026).
Dan di situlah terlihat kualitas kepemimpinan seorang kepala sekolah, karena pimpinan sejati bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang mampu menjaga akal sehat ketika keadaan sedang gaduh.
Sikap Indang Maryati, menunjukkan bahwa ketegasan tidak harus dibungkus kemarahan, bahwa keberanian tidak harus hadir lewat teriakan, tetapi mempertahankan prinsip tetap bisa dilakukan tanpa harus melanggar Etika.
Di zaman ketika banyak orang lebih sibuk menyelamatkan Citra, sosok seperti Indang Maryati justru menunjukkan bahwa wibawa sejati lahir dari ketenangan, keberanian moral, dan kemampuan menjaga kehormatan dalam situasi sulit,ini bukan hanya soal lomba.
Ini tentang Bagaimana seorang kepala sekolah memberi contoh langsung kepada murid-muridnya, bahwa menjadi manusia terhormat, jauh lebih penting daripada sekedar menjadi pemenang.(Red)
Artikel Terkait
HUT ke-28 KWRI, Wawan Subing Tegaskan Peran Wartawan sebagai Pilar Demokrasi dan Pengawal Pembangunan
21 Mei 2026
Lewat CSR, PTPN IV REGIONAL VII GRADER Jalan Kampung Kota baru Sukawaringin Dan Srikaton
12 Mei 2026